Selasa, 16 Januari 2024

Pengelolaan Kinerja Pada PMM (Platform Merdeka Mengajar)

 Asslamu'alaikum Wr. Wb,

Hallo Bapak/Ibu Hebat.

Pengelolaan Kinerja pada PMM adalah alat bantu yang memudahkan Guru dan Kepala Sekolah untuk menentukan sasaran kinerja yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan satuan pendidikan dan pengembangan karir guna peningkatan kualitas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Fitur Pengelolaan Kinerja ini telah terintegrasi dengan layanan e-kinerja yang dikelola oleh Badan Kepegawaian Negara.

Apa manfaat menggunakan Pengelolaan Kinerja di PMM jika dibandingkan dengan e-Kinerja?
Dengan menggunakan Pengelolaan Kinerja melalui Platform Merdeka Mengajar, Guru dan Kepala Sekolah dapat melakukan Pengelolaan Kinerja yang lebih kontekstual dan spesifik untuk pelaksanaan tugasnya sebagaimana visi transformasi pembelajaran yang ditetapkan Kemendikbudristek.
Manfaat Pengelolaan Kinerja untuk Guru dan Kepala Sekolah diantaranya:
  • Memfasilitasi pegawai (guru dan kepala sekolah) melakukan pengembangan kompetensi dan peningkatan kinerja secara berkelanjutan.
  • Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kontribusi pegawai (guru dan kepala sekolah) terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. 
  • Memberikan penguatan dan dukungan terhadap peningkatan karier pegawai (guru dan kepala sekolah) berdasarkan kualitas kinerjanya.
Mengapa Transformasi Pengelolaan Kerja dibutuhkan ?
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah aktif terlibat dalam upaya transformasi pengelolaan kinerja melalui program Merdeka Belajar. Fokus terkini adalah pengelolaan kinerja bagi Guru dan Kepala Sekolah, mencerminkan komitmen Kementerian untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas di sektor pendidikan.
 
Sebelumnya, pengelolaan kinerja Guru dan Kepala Sekolah dilakukan melalui e-Kin dan sistem-sistem lain dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) atau Badan Kepegawaian Negara (BKN), dengan format yang bervariasi antar dinas. Saat ini, Kementerian telah memperkenalkan Platform Merdeka Mengajar sebagai wadah terintegrasi untuk pengelolaan kinerja. Dengan langkah ini, diharapkan kemudahan, efisiensi, dan aksesibilitas yang lebih baik dapat dinikmati oleh Guru dan Kepala Sekolah.

Penting untuk dicatat bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) selalu memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, khususnya melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). Dalam konteks ini, Peraturan Menteri PANRB No. 6 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Kinerja Pegawai Aparatur Sipil Negara menjadi landasan utama.

Sejalan dengan regulasi tersebut, penerapan PermenPANRB No. 1 Tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional juga bertujuan memberikan kerangka kerja yang jelas, mendukung penilaian kinerja yang lebih akurat, dan merujuk pada tugas serta tanggung jawab yang spesifik. Dengan langkah-langkah ini, Kementerian tidak hanya berusaha menjadikan proses monitoring dan evaluasi kinerja lebih transparan dan responsif, tetapi juga memastikan bahwa semua tindakan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan pendidikan dan memberikan keyakinan kepada para pemangku kepentingan.

Siapa Pengguna Pengelolaan Kinerja?
Pengelolaan Kinerja dapat digunakan oleh Guru dan Kepala Sekolah yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  • Guru dan Kepala Sekolah ASN (PNS dan PPPK) di bawah naungan Pemerintah Daerah dan sudah menggunakan platform e-Kinerja serta termasuk dengan Jenis PTK (Jenis GTK) berikut : 
  1. GURU MAPEL
  2. GURU KELAS
  3. GURU BK
  4. GURU PENGGANTI
  5. GURU TIK
  6. GURU PENDAMPING
  7. GURU PENDAMPING KHUSUS
  8. GURU PEMBIMBING KHUSUS
  9. PLAY GROUP TEACHER
  10. KINDERGARTEN TEACHER
  11. KEPALA SEKOLAH
  • Guru dan Kepala Sekolah  non-ASN di bawah naungan Pemerintah daerah tetap dianjurkan untuk menggunakan Pengelolaan Kinerja di platform Merdeka Mengajar.
Bagaimana Mengakses Pengelolaan Kinerja?
Sebelum mengakses Pengelolaan Kinerja, pastikan Anda merupakan Guru dan Kepala Sekolah yang memenuhi persyaratan dalam mengakses Halaman Pengelolaan Kinerja.
Selanjutnya, Anda juga dapat pastikan untuk masuk/login menggunakan akun belajar.id Untuk mengakses menu Pengelolaan Kinerja, silakan perhatikan langkah-langkah di bawah ini. 
  • Versi Aplikasi Android
1. Buka Menu Pengelolaan Kinerja pada laman Beranda aplikasi Merdeka Mengajar di Android

2. Setelah masuk ke halaman Pengelolaan Kinerja, Anda akan melihat Alur Pengelolaan Kinerja seperti tampilan dibawah ini.


  • Versi Web
Jika Anda membuka platform Merdeka Mengajar melalui peramban/browser laptop/Desktop, maka ikuti langkah-langkah berikut untuk mengakses menu Pengelolaan Kinerja

1. Buka halaman https://guru.kemdikbud.go.id/ lalu geser layar ke bawah dan temukan Pengembangan Diri, lalu klik Pengelolaan Kinerja
2. Setelah masuk ke halaman Pengelolaan Kinerja, Anda akan melihat Alur Pengelolaan Kinerja seperti tampilan dibawah ini.


Linimasa Pengelolaan Kinerja
Pengelolaan Kinerja yang dirancang untuk dilakukan dalam dua siklus setiap tahunnya, dengan satu siklus berlangsung selama periode 6 bulan, bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan. Keuntungan utama adanya dua siklus dalam satu tahun adalah memberikan kesempatan untuk evaluasi berkala, pemantauan, dan peningkatan kinerja, baik bagi Guru maupun Kepala Sekolah.
Pemangku kepentingan yang terlibat dalam Pengelolaan Kinerja antara lain Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) selaku instansi pembina Guru dan Kepala Sekolah, Badan Kepegawaian Negara (BKN) instansi pemerintah yang membidangi manajemen kepegawaian, dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangan melalui Badan Kepegawaian Daerah dan Dinas Pendidikan. Keterlibatan pemangku kepentingan tersebut memperkuat implementasi Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah sehingga menjadikannya lebih berdampak, dinamis, dan responsif terhadap kualitas pembelajaran selama setahun. Linimasa Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah mencerminkan komitmen untuk memberikan evaluasi secara berkala dan dukungan secara teratur guna mendukung peningkatan kinerja yang berkelanjutan.

Tujuan yang ingin dicapai dari Pengelolaan Kinerja adalah mendukung Guru dan Kepala Sekolah melakukan peningkatan kinerja dengan lebih terfokus pada 1 indikator kinerja yang telah dipilih pada setiap siklusnya.

Adapun detail Siklus Peningkatan Kinerja adalah sebagai berikut:
  • Diskusi Persiapan: Upaya merumuskan fokus perilaku, upaya mempelajari, dan menentukan jadwal observasi kinerja. 
  • Observasi Kinerja: Observasi Kinerja bertujuan menetapkan batas dasar kinerja (baseline) berdasarkan upaya yang telah dirumuskan pada siklus Diskusi Persiapan antara Guru dan Kepala Sekolah. Observasi kinerja dilakukan bukan untuk melakukan penilaian.
  • Diskusi Tindak Lanjut: Upaya merefleksikan hasil observasi kinerja dan upaya menentukan tindak lanjut yang akan dilakukan dan kebutuhan dukungan untuk peningkatan kinerja. Diskusi ini juga dilakukan antara Guru dan Kepala Sekolah.
  • Upaya Tindak Lanjut: Upaya melakukan pengembangan kompetensi yang dibutuhkan untuk peningkatan kinerja sesuai dengan hasil diskusi tindak lanjut sebelumnya. 
  • Refleksi Tindak Lanjut: Upaya merefleksikan tindak lanjut termasuk identifikasi capaian, tantangan, dan rencana perbaikan.
Tahapan Pengelolaan Kinerja Untuk Guru
Pengelolaan Kinerja untuk Guru memiliki tiga tahapan penting yang dilakukan oleh Guru selama enam bulan dan terjadi dua kali dalam setahun. (Perdirjen GTK/Nomor7607/B.B1/HK.03/2023). Berikut adalah Tahapan Pengelolaan Kinerja dimulai dari Perencanaan Kinerja hingga Penilaian Hasil Kinerja di Platform Merdeka Mengajar.

  • Perencanaan Kinerja

Bagi Guru yang tidak memiliki Kepala Sekolah definitif (saat ini dipimpin oleh Plt Kepala Sekolah) di Satuan Pendidikan, maka Perencanaan Kinerja yang diajukan akan disetujui secara otomatis oleh sistem. Pastikan perencanaan yang Anda buat telah sesuai sebelum mengajukan, karena tidak ada proses diskusi hingga pengecekan manual yang umumnya dilakukan oleh Kepala Sekolah.
Perencanaan Kinerja merupakan proses penting bagi Guru dalam meningkatkan efektivitas pengajaran dan pembelajaran yang berdampak pada Peserta Didik. Pada tahap ini, Guru dapat memulai menyusun Perencanaan Kinerja pada awal bulan di setiap semester tahun ajaran baru. Guru  dapat memilih indikator yang direkomendasikan berdasarkan penilaian dari Rapor Pendidikan atau indikator lainnya sesuai dengan kebutuhan peningkatan kinerja. Bagi ‘Perencanaan Kinerja' yang telah disusun akan diajukan kepada Atasan dan akan melakukan peninjauan serta memberikan persetujuan terhadap Perencanaan Kinerja yang diajukan oleh Guru.

Perencanaan Kinerja merupakan tahap awal dalam Pengelolaan Kinerja. Pada tahap ini, Guru diminta untuk menyusun Perencanaan Kinerja sebelum batas waktu yang dianjurkan, yaitu pada awal bulan setiap semester. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan Guru dalam berdiskusi dengan Kepala Sekolah guna melakukan evaluasi dan penyesuaian yang lebih efektif terhadap penyusunan Perencanaan Kinerja.

Perencanaan Kinerja memiliki lima tahap yang harus dilakukan oleh Guru, mulai dari penyusunan Praktik Kinerja/ Praktik Pembelajaran  hingga melakukan pengecekan Rangkuman dari penyusunan yang telah dibuat.
  1. Praktik Kinerja / Praktik Pembelajaran
  2. Pengembangan Kompetensi
  3. Tugas Tambahan
  4. Perilaku Kerja
  5. Rangkuman
  • Pelaksanaan Kinerja
Pelaksanaan Kinerja merupakan tahap kedua setelah Perencanaan Kinerja yang sudah disetujui. Pada tahap ini, Kepala Sekolah akan melakukan pelaksanaan, pemantauan dan pembinaan kinerja melalui observasi. Pelaksanaan Kinerja memiliki empat proses tahapan dalam melakukan observasi yang dilakukan oleh Guru dan/atau Kepala Sekolah mulai dari Bulan Februari sampai dengan Mei. Berikut empat proses tahapan dalam melakukan :
  1. Diskusi Persiapan
  2. Observasi Kelas
  3. Diskusi Tindak Lanjut
  4. Refleksi Tindak Lanjut
Guru juga akan diminta untuk melampirkan bukti dukung Pengembangan Kompetensi dan bukti dukung Tugas Tambahan di Pelaksanaan Kinerja.
  • Penilaian Kinerja

Penilaian Kinerja merupakan tahap terakhir dari rangkaian Pengelolaan Kinerja. Pada tahap ini, Kepala Sekolah dan Guru akan berdiskusi untuk menentukan penilaian kinerja di akhir semester berdasarkan ‘Pelaksanaan Kinerja’ yang telah dilakukan. Kepala Sekolah akan membahas pencapaian dan kontribusi Guru sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dalam Perencanaan Kinerja. Diskusi ini menjadi momen untuk memberikan umpan balik, mengidentifikasi kekuatan, dan merencanakan langkah-langkah pengembangan selanjutnya guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan kinerja Guru.






Demikian Artikel ini saya samapaikan, semoga dapat bermanfaat.
Wassalam.

Sumber:

Rabu, 20 September 2023

Dilema Etika dan Bujukan Moral Dalam Mengambil Keputusan

Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.

Dari pengalaman kita bekerja di manapun, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

Paradigma Dilema Etika

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar.

“Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda.

Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.

Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat pengecualian?

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.

Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. Contohnya: Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang.


Prinsip Dilema Etika

Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral.

(Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43).

Dari kutipan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika.

Silakan membaca 3 (tiga) pernyataan di bawah ini:

  • Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
  • Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda.
  • Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda.

Selama ini pada saat mengambil keputusan, landasan pemikiran kita memiliki kecenderungan pada prinsip nomor 1, 2, atau 3? 

Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)


9 langkah Pengambilan Keputusan

Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun secara berurutan untuk memandu Anda dalam mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

Langkah 1.

Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi.

Langkah 2.

Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

Langkah 3.

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.

Langkah 4.

Pengujian benar atau salah, meliputi:

a. Uji Legal

Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.

b. Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

c. Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

d. Uji Halaman Depan Koran

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.

e. Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:

  • Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
  • Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
  • Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), di mana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral.

Langkah 5

Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

Langkah 6

Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

o Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

o Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

o Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Langkah 7

Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah

Langkah 8

Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

Langkah 9

Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Demikian penjelasan tentang dilema etika, paradigma, prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Semoga bermanfaat.


Sumber: LMS modul  program pendidikan guru penggerak kemendikbud Angkatan 6



Senin, 21 Agustus 2023

10 Tips Belajar Efektif

 Belajar efektif adalah keterampilan penting yang dapat membantu Anda meraih hasil yang lebih baik dalam belajar dan memahami informasi. Berikut beberapa tips untuk belajar secara efektif:


1. Buat Rencana Belajar:

   - Tentukan tujuan belajar Anda secara spesifik.

   - Buat jadwal belajar yang teratur, tetapkan waktu untuk materi tertentu, istirahat, dan waktu luang.


2. Buat Lingkungan Belajar yang Baik:

   - Cari tempat yang tenang, terbebas dari gangguan, dan nyaman untuk belajar.

   - Pastikan pencahayaan yang cukup dan tempat duduk yang ergonomis.


3. Pecah Materi Menjadi Bagian-Bagian Kecil:

   - Bagi materi pelajaran menjadi bagian yang lebih kecil dan terkelompok agar lebih mudah dicerna.

   - Fokus pada satu bagian sekaligus untuk menghindari kelelahan dan overloading informasi.


4. Gunakan Metode Pembelajaran yang Beragam:

   - Gunakan berbagai sumber seperti buku, video, catatan, dan sumber-sumber online.

   - Gunakan teknik seperti mind mapping, membaca ulang, membuat catatan, dan menjelaskan kembali kepada diri sendiri.


5. Gunakan Teknik Aktif:

   - Terlibat dalam diskusi, mengajukan pertanyaan, dan mencoba mengajar materi kepada orang lain.

   - Menggunakan pendekatan aktif membantu memperkuat pemahaman dan ingatan.


6. Istirahat yang Teratur:

   - Jadwalkan istirahat singkat setiap kali Anda belajar selama beberapa jam.

   - Istirahat membantu menghindari kejenuhan dan mempertahankan konsentrasi.


7. Tidur yang Cukup:

   - Pastikan Anda mendapatkan tidur yang cukup, karena tidur memiliki dampak besar pada pembelajaran dan memori.


8. Ulangi Materi secara Teratur:

   - Gunakan teknik ulangan yang berulang-ulang untuk memperkuat memori jangka panjang.

   - Ulangi materi setelah beberapa waktu untuk memastikan Anda tidak lupa.


9. Pentingkan Keseimbangan:

    - Jangan lupakan waktu untuk rekreasi, olahraga, dan bersosialisasi.

    - Keseimbangan yang baik akan membantu menjaga kesejahteraan mental dan fisik Anda.


10. Berikan Reward pada Diri Sendiri:

    - Berikan hadiah kecil pada diri sendiri setelah mencapai tujuan belajar tertentu.

    - Ini bisa memberikan motivasi tambahan untuk tetap berkomitmen pada proses belajar.


Ingatlah bahwa setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda, jadi eksperimen dengan berbagai teknik dan temukan apa yang paling cocok untuk Anda.


Kamis, 10 Agustus 2023

Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran

Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran

Oleh : Zulfian Yusmana, M.Pd (Kepala SMPN 10 Cibeber)


  1. Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran adalah hasil yang diharapkan dari proses pembelajaran yang mencerminkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dikuasai oleh peserta didik. Capaian pembelajaran dapat diukur dan dievaluasi untuk menilai sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Capaian pembelajaran dapat berupa pengetahuan konseptual, keterampilan praktis, sikap, atau kombinasi dari ketiganya.


Capaian Pembelajaran mengacu pada tujuan konkret yang ingin dicapai oleh siswa atau peserta didik dalam suatu proses pembelajaran. Tujuan ini dirumuskan berdasarkan standar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah menyelesaikan suatu kurikulum, program, atau materi pembelajaran tertentu.


Capaian Pembelajaran umumnya merujuk pada keterampilan, pengetahuan, sikap, dan pemahaman yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah mengikuti suatu periode pembelajaran tertentu. Tujuan ini membantu mengukur sejauh mana siswa telah berhasil mencapai kompetensi atau kualifikasi tertentu. Capaian Pembelajaran sering kali digunakan sebagai acuan untuk merancang kurikulum, mengembangkan materi pembelajaran, merencanakan pengajaran, dan melakukan penilaian terhadap kemajuan siswa.


Dalam konteks pendidikan formal, Capaian Pembelajaran sering kali dinyatakan dalam bentuk kompetensi atau tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur. Misalnya, dalam kurikulum suatu mata pelajaran, Capaian Pembelajaran dapat merinci apa yang diharapkan siswa ketahui, pahami, dan bisa lakukan setelah mengikuti pembelajaran tersebut.


Penting untuk merancang Capaian Pembelajaran yang jelas dan terukur, sehingga pengajaran dan pembelajaran dapat dilakukan secara efektif, dan evaluasi terhadap kemajuan siswa dapat dilakukan secara obyektif.


  1. Tujuan Pembelajaran (TP)

Merumuskan tujuan pembelajaran adalah proses yang melibatkan pengidentifikasian apa yang ingin dicapai oleh siswa setelah menyelesaikan suatu proses pembelajaran. 

Konsep Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah deskripsi pencapaian tiga aspek kompetensi, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang diperoleh murid dalam satu atau lebih kegiatan pembelajaran.


Tujuan pembelajaran disusun dengan memperhatikan eviden atau bukti yang dapat diamati dan diukur pada murid, sehingga murid dapat dinyatakan mencapai suatu tujuan pembelajaran.


Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya memuat 2 komponen utama, yaitu kompetensi dan lingkup materi.


1. Kompetensi

Kompetensi merupakan kemampuan yang perlu didemonstrasikan oleh murid untuk menunjukkan dirinya telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Pertanyaan panduan yang bisa digunakan guru dalam menyusun tujuan pembelajaran, antara lain:


Secara konkret, kemampuan apa yang perlu didemonstrasikan oleh murid?

Tahap berpikir apa yang perlu didemonstrasikan oleh murid?


2. Lingkup materi

Lingkup materi merupakan konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit pembelajaran. Pertanyaan panduan yang bisa digunakan guru dalam menyusun tujuan pembelajaran, antara lain:

  • Hal apa saja yang perlu dipelajari murid dari suatu konsep besar yang dinyatakan dalam CP?

  • Apakah lingkungan sekitar dan kehidupan keseharian murid dapat digunakan sebagai konteks untuk mempelajari konten dalam CP? (misal: proses pengolahan hasil panen digunakan sebagai konteks untuk belajar tentang persamaan linear di SMA)


Konsep Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Jika Capaian Pembelajaran adalah kompetensi yang diharapkan dapat dicapai murid di akhir fase, maka Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis di dalam fase pembelajaran.

  • Alur menjadi panduan guru dan murid untuk mencapai Capaian Pembelajaran di akhir suatu fase.

  • Tujuan pembelajaran disusun secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran dari waktu ke waktu.

  • Guru dapat menyusun ATP masing-masing, yang terdiri dari rangkaian tujuan pembelajaran.

  • Pemerintah akan menyediakan beberapa contoh ATP yang bisa langsung digunakan atau dimodifikasi, dan membuat panduan untuk penyusunan perangkat ajar.


Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah langkah-langkah yang merinci perencanaan tujuan pembelajaran dari tingkat konsep hingga tingkat tindakan konkret yang diharapkan dicapai oleh siswa. ATP membantu menguraikan hubungan antara tujuan pembelajaran secara berurutan dan logis. Berikut adalah langkah-langkah untuk menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP):


Tentukan Tujuan Pembelajaran Utama: Identifikasi tujuan utama atau kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa pada akhir pembelajaran. Tujuan ini mencerminkan pemahaman konsep atau keterampilan kunci yang ingin siswa kuasai.


Pecah Tujuan Utama menjadi Subtujuan: Bagi tujuan utama menjadi subtujuan yang lebih spesifik dan dapat diuraikan. Subtujuan ini seharusnya mencakup konsep atau aspek yang lebih detail dari tujuan utama.


Rangkai Subtujuan dalam Alur: Susun subtujuan dalam urutan logis atau hirarkis, yang menggambarkan langkah-langkah bertahap menuju pencapaian tujuan utama. Pastikan bahwa setiap subtujuan membangun pada subtujuan sebelumnya.


Tentukan Indikator atau Kriteria: Setiap subtujuan harus memiliki indikator atau kriteria yang jelas untuk menunjukkan bagaimana siswa dapat membuktikan bahwa mereka telah mencapai subtujuan tersebut. Indikator ini akan membantu dalam penilaian kemajuan siswa.


Tingkatkan Detail Secara Bertahap: Setiap subtujuan harus merinci keterampilan atau pengetahuan yang lebih spesifik. Jika diperlukan, pecah subtujuan lebih lanjut menjadi langkah-langkah yang lebih kecil.


Jelaskan Konteks dan Aplikasi: Sertakan contoh konteks atau situasi di mana siswa akan menggunakan keterampilan atau pengetahuan yang dipelajari. Ini membantu siswa memahami relevansi dan cara praktis penggunaan.


Pastikan Keselarasan dengan Kurikulum: Pastikan bahwa ATP sesuai dengan kurikulum yang ada dan menggambarkan langkah-langkah yang mengarah pada pencapaian tujuan kurikulum.


Contoh Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) untuk Mata Pelajaran Sains (Tema: Perubahan Wujud Benda):


Tujuan Pembelajaran Utama: Siswa dapat menjelaskan dan mengidentifikasi perubahan wujud benda serta menggambarkan prosesnya.


ATP:


Subtujuan: Siswa dapat mengenali tiga wujud benda (padat, cair, gas).


Indikator: Siswa dapat menyebutkan tiga wujud benda.

Konteks: Identifikasi wujud benda sehari-hari.

Subtujuan: Siswa dapat menjelaskan ciri-ciri masing-masing wujud benda.


Indikator: Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri padat, cair, dan gas.

Konteks: Menjelaskan ciri cairan dalam kehidupan sehari-hari.

Subtujuan: Siswa dapat menggambarkan perubahan wujud benda dari satu bentuk ke bentuk lain.


Indikator: Siswa dapat menggambarkan perubahan es menjadi air.

Konteks: Menggunakan contoh dalam kehidupan nyata.

Subtujuan: Siswa dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan wujud benda.


Indikator: Siswa dapat menyebutkan faktor suhu dan tekanan.

Konteks: Hubungan suhu dan perubahan wujud es.

Subtujuan: Siswa dapat merancang percobaan sederhana untuk mengamati perubahan wujud benda.


Indikator: Siswa dapat merancang percobaan dengan menggunakan es dan air.

Konteks: Menerapkan konsep dalam situasi eksperimen.


Alur Tujuan Pembelajaran ini memberikan panduan yang terstruktur bagi guru dalam merencanakan pembelajaran dan menilai pencapaian siswa. Dengan ATP yang baik, proses pembelajaran dapat diarahkan dengan lebih efektif, dan evaluasi kemajuan siswa dapat dilakukan dengan lebih sistematis.